date written: 2021-12

output-writing

Validation Cut-off

EN translated

Cutting down the attention hunger in today’s world, both offline and online (especially on social media), is like staying pure in the middle of a world full of lies. Your body might be in the crowd, but your soul is like a monk on a cliff edge, calm and free from the notifications noise.

The link between sanity and social media is sticky. People today get upset over things that barely matter. Take Kipli as example. He feels insecure because his account is quiet, and he’s confused why his crush unfollowed him. His mind races every time he updates his status, posts an Insta story, scrolls through feeds, or shitposts. Why? He keeps checking views, swiping, sliding, scrolling, wondering if that unknown girl has seen it. In the end, he realizes, she doesn’t care. Ugh.

Is it her fault? Or the app’s? She doesn’t even know Kipli, and the app just sits there, doing nothing unless you tap it. The real problem is Kipli’s fragile personality, cracked because he feels ghosted for no reason. Ugh.

That’s just one small example of a new kind of problem. It sounds silly, but the impact can go deep, as deep as the hole in Kipli’s heart. These products are designed to be addictive, to pull you in. Social media is a product of big corps, and fragile hearts like Kipli’s are easy to play with for their marketing teams. Somewhere, the elites are probably laughing, profiting by making Kipli like a fool. That’s the show we’re all part of.

Please, use tech as The User, not the one being used.

Use it only when your mind is clear and you truly understand how to use it in a healthy way, not in a way that hurts.





Memangkas Validasi

ID original

Mengurangi nafsu akan pengakuan dari masyarakat modern baik di dunia nyata maupun di dunia maya (terutama pada sosial media) itu sama halnya menjadi murni di tengah dunia yang penuh dusta, ibarat raganya di tengah kerumunan namun batinnya bak petapa di pinggir tebing, khusuk dan bebas dari penatnya notifikasi.

Kaitan antara kewarasan dengan media sosial itu lengket. Manusia era sekarang itu banyak masalah dengan hal-hal yang kurang greget, misalnya Kipli insecure karena akunnya sepi dan bingung karena diunfoll oleh si Dia. Pikiran dan perasaan saat update status Whatsapp, update story Instagram, scroll feed, sampai menshitposting bikin batin Kipli banyak tidak tenangnya, kenapa ya? Bolak-balik melihat berapa yang sudah view, cek swipe-slide-scroll apakah yang dikode sudah lihat belum? Pada akhirnya Kipli menyadari bahwa si Dia ngga peduli hadehh. Apakah si Dia salah? Ataukah aplikasinya? Si Dianya ngga kenal siapa Kipli dan aplikasinya juga ngga ngapa-ngapain hanya diam kalau ngga ditunyuk. Sumber masalahnya terletak pada hati Kipli yang rontok karena GR merasa dighosting tanpa sebab duhh.

Itu contoh dari banyaknya masalah baru yang terdengar sepele namun dampaknya bisa sangat dalam, sedalam lubang di hati Kipli. Sebuah produk dibuat sedemikian rupa menggoda untuk menarik hati manusia. Sosial media itu produk dari korporasi besar, maka dari itu hati manusia yang ringkih seperti Kipli bisa dimainkan sesuka hati oleh tim marketing. Tuh para elite global di belakang sedang haha-hihi liat Kipli yang merasa goblok sendiri. Seperti itulah sandiwaranya.

Gunakanlah teknologi sebagai Sang Pengguna, bukan malah justru yang diguna-guna.

Gunakanlah teknologi ketika kesadaran kembali terisi dan betul-betul mengerti cara penggunaan yang cocok, menyehatkan bukan menyakitkan.