date written: 2023-10

output-writing

Zom100

Addiction Apocalypse

EN translated

We live in a zombie apocalypse, but not the kind with rotting corpses biting necks. No, this one is chill: a crowd that lost the brakes and is dying for meaning.

How long do we squish our brains with our thumbs, swiping apps until our nerves cringe and the only sounds we make are mumbles like “hehe,” “oh,” “wew,” or “hmmm.”

We are infected by everything instant, easy, cheap, always craving the next hit. We stuff emptiness with dopamine, spray fear and hate toward nothingness. We can end up dying, not by some accident, but by five minutes of silence.

Picture yourself still fully human, facing a zombie. Do you want to catch the virus? Hell no. So how not to get bitten? Two choices: run or fight. Don’t just run, you’ll trip in panic; don’t just fight, that’s suicide. To stay human you need practice. Skipping practice in this era and it’s auto Game Over. Zombies are everywhere, even in your pocket.

Now flip it. Imagine you are already a zombie. Can you still think? How does it feel? Is self-control hard? Are you aware? How do you cure yourself and turn back into fleshy human? I wouldn’t know, we’re zombified, huooo.

Without realizing, we’re already zombies who miss being human.





Apokalips Adiksi

ID original

Kita hidup pada masa zombie apocalypse, tapi nggak semengerikan mayat yang beringas gigit sana-sini. Namun, hidup di tengah kerumunan yang tiada kontrol dan kehausan makna.

Berapa lama kita bermain meremas-remas otak dengan jari melalui aplikasi, sampai saraf kita mengernyit, menghasilkan suara di mulut berupa gumaman, “hehe,” “oh,” “wew,” atau “hmmm.”

Kita terinfeksi dengan segala yang instan, enak, murah, mendambakan stimulan. Menyumbat kehampaan dengan candu, menyumbar kebencian terhadap kebosanan. Kita bisa saja dibuat babak belur, bukan oleh siapa-siapa, melainkan oleh sang keheningan yang hanya mampir lima menit.

Coba posisikan diri kita masih berupa manusia seutuhnya, tapi di hadapan ada zombie. Apakah kita mau ketularan jadi dia? Mana sudi! Lalu, gimana caranya biar nggak digigit? Dua pilihan: lari atau lawan. Jangan asal lari, nanti panik kesandung, apalagi asal lawan, sama saja dengan bundir. Maka dari itu, supaya tidak jadi zombie, kita perlu latihan. Kalau di masa ini nggak mau latihan? Ya sudah, auto Game Over. Zombie ada di mana-mana, termasuk di saku pakaian kita.

Sekarang dibalik, coba posisikan diri kita sebagai manusia yang terlanjur jadi zombie. Apakah kita akan mampu berpikir? Gimana rasanya? Sulitkah mengendalikan diri? Apa kita sadar? Gimana caranya sembuhin diri biar balik jadi manusia? Mana saya tahu, kita kan zombos huooo.

Tanpa sadar, kita adalah zombie yang rindu menjadi manusia.